Temukan Nada Ceritamu
Jelajahi ribuan cerpen menakjubkan atau mulailah menulis mahakaryamu sendiri bersama Cerpenada.
Paling Populer 🔥
Cerpen dengan jumlah pembaca terbanyak.
Sepatu Kaca Sang Pemimpi
Tidak peduli seberapa keras dunia menginjaknya, ia selalu menemukan cara untuk melangkah maju. Sepatu usangnya telah menjadi saksi bisu ribuan kilometer perjuangannya.
Senja di Batas Kota yang Terlupakan
Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca gedung-gedung bertingkat. Di meja sudut kedai kopi ini, secangkir kopi hitam mulai kehilangan kehangatannya, sama seperti harapanku yang perlahan pudar.
Bayangan di Lantai Tiga
Sekolah itu selalu sunyi setelah jam 5 sore. Namun hari ini, terdengar langkah kaki berat dari lantai tiga yang seharusnya dikunci rapat. Aku mencoba memberanikan diri naik perlahan.
Surat Cinta untuk Bintang
Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu. Malam itu bintang tidak terlalu terang, namun matamu mampu mengalahkan semua gemerlap lampu kota Jakarta.
Ekspedisi Nebula-9
Tahun 3045, bumi bukan lagi satu-satunya rumah. Kapsul penyelamat kami meluncur tanpa arah menuju gugusan bintang yang tak ada di peta navigasi. Oksigen tersisa 2 jam.
Baru Saja Terbit 📖
Karya-karya segar dari para penulis Cerpenada.
Tragedi Roti Yakisoba Terakhir
Kenji berdiri di ujung koridor sekolah dengan napas terengah-engah, menatap musuh bebuyutannya, Satomi, yang berdiri di depan kantin. Suasana mendadak berubah dramatis; kelopak bunga sakura terbang melewati jendela dalam gerak lambat, dan musik orkestra imajiner mulai berdentum kencang di telinga Kenji. Target mereka hanya satu: Roti Yakisoba Edisi Terbatas yang tinggal satu buah di balik etalase kaca, berkilau seolah dijatuhi cahaya suci dari surga kuliner. "Langkahmu terlalu lambat, Kenji-kun," ujar Satomi sambil menyesuaikan kacamatanya yang mendadak berkilat putih menutupi matanya. Kenji menggeram, ia segera merapal teknik andalannya, Langkah Seribu Bayangan Kelaparan, dan melesat maju hingga menciptakan efek garis-garis kecepatan di latar belakang. Namun, Satomi lebih cerdik; ia melemparkan sebuah penghapus yang memantul di dinding, menciptakan distraksi visual yang membuat Kenji terpeleset dramatis hingga berguling-guling seperti bola boling manusia. Tepat saat tangan Satomi nyaris menyentuh bungkusan roti legendaris itu, seorang siswi kelas satu bertubuh mungil berjalan santai entah dari mana. Dengan wajah tanpa dosa dan kecepatan yang melampaui logika shounen, ia mengambil roti tersebut, membayar dengan uang pas, lalu menggigitnya sambil bergumam, "Wah, keberuntungan." Kenji dan Satomi mematung di lantai, tubuh mereka berubah menjadi abu-abu dan retak-retak, seolah baru saja terkena serangan sihir penghancur harga diri. Dunia Kenji runtuh seketika saat melihat saus yakisoba itu menetes di pinggir bibir si siswi kelas satu. Ia dan Satomi yang tadinya bermusuhan kini malah saling merangkul di lantai koridor, menangis dengan aliran air mata yang deras layaknya air terjun kembar. "Setidaknya... roti itu jatuh ke tangan yang bahagia," bisik Kenji lirih sambil menatap langit-langit sekolah yang kini terasa begitu hampa, sementara perutnya berbunyi nyaring mengirimkan sinyal kekalahan telak.
Senja di Batas Kota yang Terlupakan
Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna jingga yang memantul di kaca gedung-gedung bertingkat. Di meja sudut kedai kopi ini, secangkir kopi hitam mulai kehilangan kehangatannya, sama seperti harapanku yang perlahan pudar.
Bayangan di Lantai Tiga
Sekolah itu selalu sunyi setelah jam 5 sore. Namun hari ini, terdengar langkah kaki berat dari lantai tiga yang seharusnya dikunci rapat. Aku mencoba memberanikan diri naik perlahan.
Surat Cinta untuk Bintang
Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu. Malam itu bintang tidak terlalu terang, namun matamu mampu mengalahkan semua gemerlap lampu kota Jakarta.
Ekspedisi Nebula-9
Tahun 3045, bumi bukan lagi satu-satunya rumah. Kapsul penyelamat kami meluncur tanpa arah menuju gugusan bintang yang tak ada di peta navigasi. Oksigen tersisa 2 jam.
Sepatu Kaca Sang Pemimpi
Tidak peduli seberapa keras dunia menginjaknya, ia selalu menemukan cara untuk melangkah maju. Sepatu usangnya telah menjadi saksi bisu ribuan kilometer perjuangannya.
Punya Ide Cerita Menarik?
Jangan biarkan imajinasimu menguap begitu saja. Bagikan ke ribuan pembaca Cerpenada dan jadilah penulis favorit selanjutnya!
Tulis Cerpen Sekarang