Kenji berdiri di ujung koridor sekolah dengan napas terengah-engah, menatap musuh bebuyutannya, Satomi, yang berdiri di depan kantin. Suasana mendadak berubah dramatis; kelopak bunga sakura terbang melewati jendela dalam gerak lambat, dan musik orkestra imajiner mulai berdentum kencang di telinga Kenji. Target mereka hanya satu: Roti Yakisoba Edisi Terbatas yang tinggal satu buah di balik etalase kaca, berkilau seolah dijatuhi cahaya suci dari surga kuliner.
"Langkahmu terlalu lambat, Kenji-kun," ujar Satomi sambil menyesuaikan kacamatanya yang mendadak berkilat putih menutupi matanya. Kenji menggeram, ia segera merapal teknik andalannya, Langkah Seribu Bayangan Kelaparan, dan melesat maju hingga menciptakan efek garis-garis kecepatan di latar belakang. Namun, Satomi lebih cerdik; ia melemparkan sebuah penghapus yang memantul di dinding, menciptakan distraksi visual yang membuat Kenji terpeleset dramatis hingga berguling-guling seperti bola boling manusia.
Tepat saat tangan Satomi nyaris menyentuh bungkusan roti legendaris itu, seorang siswi kelas satu bertubuh mungil berjalan santai entah dari mana. Dengan wajah tanpa dosa dan kecepatan yang melampaui logika shounen, ia mengambil roti tersebut, membayar dengan uang pas, lalu menggigitnya sambil bergumam, "Wah, keberuntungan." Kenji dan Satomi mematung di lantai, tubuh mereka berubah menjadi abu-abu dan retak-retak, seolah baru saja terkena serangan sihir penghancur harga diri.
Dunia Kenji runtuh seketika saat melihat saus yakisoba itu menetes di pinggir bibir si siswi kelas satu. Ia dan Satomi yang tadinya bermusuhan kini malah saling merangkul di lantai koridor, menangis dengan aliran air mata yang deras layaknya air terjun kembar. "Setidaknya... roti itu jatuh ke tangan yang bahagia," bisik Kenji lirih sambil menatap langit-langit sekolah yang kini terasa begitu hampa, sementara perutnya berbunyi nyaring mengirimkan sinyal kekalahan telak.